
What's Hidden Under the World's Most Mysterious Places?
Audio Summary
AI Summary
Pulau New Guinea, yang ukurannya tiga kali lipat dari Britania Raya atau membentang dari New York hingga Texas jika ditempatkan di atas Amerika, merupakan wilayah yang jauh lebih besar dan tidak dikenal daripada yang banyak orang kira. Sekitar 80% wilayahnya ditutupi hutan hujan lebat, menjadikannya hutan hujan terbesar ketiga di dunia setelah Amazon dan Kongo. Selain itu, New Guinea sangat bergunung-gunung, dengan Pegunungan Tinggi New Guinea yang seukuran dan setinggi Pegunungan Rocky di Amerika Utara, serta memiliki puncak tertinggi di antara Himalaya dan Andes. Geografi yang keras ini, gabungan hutan hujan lebat dan pegunungan tinggi, menyebabkan masih banyak wilayah yang belum dijelajahi hingga kini.
Di sisi barat pulau, yang dikuasai Indonesia, terdapat sisa-sisa gletser tropis yang terus menyusut sejak Revolusi Industri. Puncak Jaya, gunung terdekat, memiliki titik tertinggi di pulau ini pada ketinggian 4.884 meter, menjadikannya titik tertinggi di pulau mana pun di dunia. Gletser ini pertama kali ditemukan oleh penjelajah Belanda Jan Carstens pada tahun 1623, namun keberadaannya baru diverifikasi oleh ilmuwan Barat hampir 300 tahun kemudian. Sayangnya, gletser ini diperkirakan akan hilang sepenuhnya pada akhir dekade ini, sekitar tahun 2030, menyusut lebih dari 97% dari ukurannya pada tahun 1850.
Secara geologis, New Guinea terletak di lempeng tektonik Australia, bukan Eurasia, dan pernah terhubung langsung dengan Australia membentuk benua Sahul selama Zaman Es terakhir. Ini menjelaskan mengapa banyak spesies hewan, seperti marsupial, ditemukan di kedua wilayah tersebut. New Guinea juga merupakan lokasi penemuan spesies baru yang paling banyak, kedua setelah Amazon, dengan ribuan spesies baru dideskripsikan sejak 2010. Penemuan mamalia besar yang sebelumnya tidak dikenal atau dianggap punah, seperti tikus wol subalpine dan kanguru pohon Wondiwoi, masih terjadi. Yang paling menarik adalah kemungkinan penemuan kembali thylacine, atau harimau Tasmania, yang diyakini punah di Australia dan New Guinea sekitar 3.200 tahun yang lalu. Jika thylacine masih ada, kemungkinan besar ia bersembunyi di wilayah New Guinea yang belum terjamah.
Secara politik, New Guinea terbagi dua antara Papua Barat yang dikuasai Indonesia dan Papua Nugini di timur, sebuah negara merdeka. Papua Nugini merupakan satu-satunya negara di dunia yang populasinya tidak diketahui secara pasti. Sensus 2024 mencatat 10,18 juta penduduk, namun banyak dikritik karena tidak akurat. Studi PBB pada 2022 memperkirakan populasi sebenarnya sekitar 17 juta. Perbedaan ini mencerminkan tantangan sensus di wilayah pedalaman yang sulit diakses.
New Guinea juga memiliki keragaman linguistik dan etnis yang luar biasa. Lebih dari 1.000 bahasa berbeda masih dituturkan di seluruh pulau, menjadikannya negara paling beragam linguistik di dunia. Isolasi geografis karena pegunungan dan hutan hujan menyebabkan kelompok-kelompok terpencil mengembangkan bahasa dan budaya mereka sendiri selama ribuan tahun. Bahasa Inggris berbasis Kreol, Tok Pisin, dan bahasa asli Hiri Motu berfungsi sebagai lingua franca, meskipun kurang dari separuh penduduk Papua Nugini menguasai salah satunya.
Di Papua Barat, diperkirakan masih ada 2 hingga 10 suku terpencil yang menolak kontak dengan dunia luar, meskipun jumlahnya telah menurun drastis akibat aktivitas pemerintah Indonesia, misionaris, turis petualang, dan influencer media sosial. Bukti arkeologis menunjukkan bahwa manusia pertama tiba di New Guinea sekitar 60.000 tahun yang lalu, menjadikan penduduk asli Papua sebagai salah satu bangsa tertua di planet ini. Mereka memiliki konsentrasi DNA Denisovan tertinggi di dunia, menunjukkan perkawinan silang antara nenek moyang mereka dengan Denisovan.
Di Kuk Swamp, Papua Nugini, bukti menunjukkan bahwa orang Papua mengembangkan pertanian secara mandiri sekitar 8.000 tahun yang lalu, menjadi salah satu dari sedikit masyarakat di dunia yang berhasil mendomestikasi tanaman seperti pisang, talas, dan tebu. Kedatangan pemukim Austronesia sekitar 3.000 tahun yang lalu menambah keragaman linguistik dan memperkenalkan perdagangan. Salah satu misteri pertanian adalah bagaimana ubi jalar, yang berasal dari Amerika Selatan, tiba di New Guinea sekitar abad ke-13, jauh sebelum Columbus. Teori utama adalah kontak antara Polinesia dan penduduk asli Amerika Selatan. Ubi jalar merevolusi kehidupan di dataran tinggi New Guinea, memungkinkan masyarakat mengumpulkan babi dan mengembangkan populasi menjadi masyarakat yang kompleks.
Dataran tinggi New Guinea tetap tidak dikenal oleh dunia Barat hingga tahun 1930-an. Penjelajah Eropa berhasil mencapai Kutub Selatan sebelum mencapai pedalaman New Guinea. Pada tahun 1930-an, penggunaan pesawat terbang memungkinkan penjelajahan dan penemuan masyarakat berpenduduk padat di dataran tinggi, yang diperkirakan dihuni sekitar satu juta orang. Ini menandai kontak besar terakhir antara dua masyarakat besar dalam sejarah manusia.
Salah satu misteri terbesar di New Guinea adalah hilangnya Michael Rockefeller, putra Nelson Rockefeller, pada tahun 1961. Ia sedang dalam ekspedisi untuk mengumpulkan seni dari suku Asmat di Papua Belanda ketika perahunya terbalik. Michael memutuskan untuk berenang ke pantai, dan tidak pernah terlihat lagi. Meskipun pemerintah kolonial Belanda menyimpulkan ia tenggelam, banyak bukti dan spekulasi menunjukkan ia mungkin dibunuh dan dimakan oleh suku Asmat sebagai balas dendam atas serangan Belanda sebelumnya. Pada tahun 2015, sebuah rekaman film yang belum diedit dari tahun 1969 menunjukkan seorang pria kulit putih yang mirip Michael Rockefeller mendayung kano perang bersama suku Asmat, memunculkan spekulasi bahwa ia mungkin bergabung dengan suku tersebut.
Saat ini, konflik di Papua Barat, yang dimulai setelah Belanda menyerahkan wilayah itu kepada Indonesia pada tahun 1960-an, menjadi salah satu konflik paling dramatis di dunia. Belanda awalnya menolak menyerahkan Papua Barat ke Indonesia karena perbedaan etnis, tetapi Amerika Serikat menekan Belanda untuk menyerahkannya kepada Indonesia demi kepentingan Perang Dingin. Pada tahun 1969, Indonesia mengadakan "Act of Free Choice" yang sangat kontroversial, di mana hanya 1.025 orang terpilih yang memilih di bawah todongan senjata, menghasilkan keputusan untuk bersatu dengan Indonesia. Sejak itu, Gerakan Papua Merdeka (OPM) melancarkan pemberontakan bersenjata.
Pemerintah Indonesia menanggapi pemberontakan OPM dengan brutal, mengubah wilayah itu menjadi negara polisi otoriter. Ekspresi politik damai dan advokasi kemerdekaan ditekan keras, bahkan pengibaran bendera Bintang Kejora dianggap tindakan makar. Indonesia juga membatasi akses ke Papua Barat bagi wartawan, LSM, dan pejabat PBB, menyembunyikan praktik represi dan menyulitkan ekspedisi ilmiah. Laporan-laporan kredibel menyebutkan pembunuhan massal dan pemindahan paksa penduduk asli Papua. Studi oleh Yale Law School pada 2004 bahkan menyimpulkan tindakan Indonesia di sana memenuhi definisi genosida.
Selain kekerasan, Indonesia menerapkan program transmigrasi besar-besaran, memindahkan warga Indonesia dari daerah padat ke Papua Barat, memberikan mereka tanah yang diambil dari penduduk asli Papua. Saat ini, sekitar separuh penduduk Papua Barat adalah transmigran atau keturunannya. OPM, yang sebagian besar bersenjata busur dan panah serta senjata kuno, telah melancarkan kampanye gerilya tingkat rendah selama puluhan tahun, menyerang infrastruktur penting dan terutama Tambang Grasberg. Tambang ini, yang ternyata merupakan salah satu tambang tembaga dan emas terbesar di dunia, telah membuat Indonesia kaya dan menyebabkan banyak negara luar menutup mata terhadap perlakuan Indonesia terhadap penduduk asli.
Pada tahun 2018, tentara Indonesia melancarkan operasi militer terbesar dalam beberapa dekade terhadap OPM, termasuk serangan udara besar-besaran dan pengerahan ribuan tentara tambahan, bahkan dugaan penggunaan senjata kimia. PBB mengutuk praktik Indonesia di Papua Barat pada tahun 2022. Pada Februari 2023, OPM menyerang sebuah pesawat kecil dan menyandera pilot Selandia Baru, Philip Mark Merdens, menuntut kemerdekaan Papua Barat. Meskipun Merdens akhirnya dibebaskan, perhatian dunia terhadap konflik ini kembali meredup.
Hutan Amazon, yang luasnya sekitar 6 juta kilometer persegi, merupakan wilayah yang sangat jarang penduduknya, dengan hanya sekitar 30 juta penduduk tersebar di seluruh wilayah. Kota Manaus di Brasil, dengan lebih dari 2 juta penduduk, adalah kota terbesar ketujuh di Brasil dan merupakan kota terisolasi paling padat penduduk di belahan bumi barat. Tidak ada jalan beraspal yang menghubungkan Manaus dengan inti Brasil lainnya, sehingga sebagian besar orang menggunakan pesawat atau perahu melalui Sungai Amazon. Iquitos di Peru, dengan sekitar 500.000 penduduk, bahkan lebih terisolasi karena tidak ada jalan sama sekali yang menghubungkannya dengan dunia luar.
Kualitas tanah di hutan hujan Amazon sangat buruk untuk pertanian skala besar, meskipun hutan ini mendukung 390 miliar pohon dan merupakan hutan paling padat dan paling beragam hayati di dunia. Nutrisi untuk tanaman berasal dari Debeli Depression di Chad, yang debunya kaya fosfor dan terbawa angin melintasi Atlantik. Namun, curah hujan yang tinggi menyebabkan nutrisi cepat tercuci dari tanah. Selama berabad-abad, pandangan umum adalah bahwa Amazon adalah hutan belantara murni yang tidak terjamah dan jarang dihuni oleh masyarakat kompleks.
Namun, penemuan arkeologis baru-baru ini telah mengubah pandangan ini. Teknologi pemindaian LiDAR memungkinkan para ilmuwan menembus kanopi hutan hujan dan menemukan reruntuhan peradaban kuno yang sebelumnya tidak diketahui. Pada tahun 2022, tim arkeolog menggunakan LiDAR di wilayah Llanos de Mojos di Bolivia, menemukan 26 situs arkeologis, 11 di antaranya baru. Dua situs tersebut ternyata adalah kota-kota prasejarah yang signifikan, lengkap dengan arsitektur monumental seperti piramida kerucut dari bata lumpur setinggi lebih dari 21 meter, serta jaringan jalan dan kanal yang luas. Diperkirakan wilayah ini pernah menopang hingga 1 juta orang sebelum kedatangan Columbus.
Pada Januari 2024, tim lain yang dipimpin oleh Stephen Rostain menerbitkan temuan mereka dari situs Lembah Upano di Ekuador. Survei LiDAR di area seluas 300 kilometer persegi mengungkapkan reruntuhan peradaban kuno yang hilang, dengan lebih dari 6.000 platform persegi panjang yang merupakan rumah-rumah yang ditinggalkan, serta jaringan jalan dan kanal pertanian yang luas. Beberapa jalan membentang lebih dari 25 kilometer dan memiliki sudut siku-siku yang sulit secara rekayasa. Diperkirakan hingga 30.000 hingga 100.000 orang pernah tinggal di Lembah Upano pada puncaknya, setara dengan kota-kota besar di zaman Romawi. Peradaban ini diperkirakan mendiami wilayah tersebut antara 500 SM hingga 600 M, jauh sebelum kedatangan penjelajah Eropa.
Penemuan ini menunjukkan bahwa Amazon dulunya merupakan tempat yang padat penduduk dan menampung peradaban kompleks. Diperkirakan hingga 8 juta penduduk asli hidup di Amazon sekitar tahun 1500. Namun, penyakit yang dibawa oleh Eropa, seperti cacar dan campak, serta kekerasan, memusnahkan populasi pribumi. Amazon kemudian menjadi lanskap pasca-apokaliptik yang tersembunyi dengan baik oleh pertumbuhan hutan lebat. Penemuan terra preta, atau tanah hitam buatan manusia, juga menunjukkan kemampuan penduduk asli untuk menciptakan tanah subur di lingkungan Amazon yang steril.
Penjelajah Inggris Percy Harrison Fawcett, pada awal abad ke-20, terobsesi mencari peradaban yang hilang, "Kota Z", di Amazon. Ia menghilang pada tahun 1925, dan ekspedisinya dianggap tidak berhasil. Namun, penemuan geoglyph dan permukiman kuno, termasuk yang di Llanos de Mojos dan Lembah Upano, membuktikan bahwa Fawcett mungkin benar. Peradaban ini menggunakan bahan alami seperti bata lumpur dan kayu, yang lebih cepat terurai dibandingkan batu, sehingga reruntuhan mereka lebih sulit ditemukan.
Selain reruntuhan peradaban, Amazon juga menyimpan misteri alam, seperti sungai air panas Chine Tempishka di Peru. Ditemukan