
How Iran is Going to Kill the Pax Americana
Audio Summary
AI Summary
Iran dan Amerika Serikat masih belum mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik mereka, karena tuntutan kedua belah pihak sangat tidak sesuai. Iran menuntut hak pengayaan nuklir tanpa batas, jaminan non-agresi dari AS, penarikan semua pasukan tempur Amerika dari Teluk Persia, reparasi perang, pencabutan semua sanksi primer dan sekunder, serta penghentian semua resolusi Dewan Keamanan PBB terhadap Iran. Penerimaan Amerika terhadap tuntutan ini akan dianggap sebagai kekalahan besar.
Salah satu tuntutan Iran yang paling berdampak pada tatanan dunia adalah keinginan Iran untuk terus mengendalikan Selat Hormuz dengan sistem tol pasca-perang. Jika ini terjadi, hal ini bisa menandai berakhirnya Pax Americana dan tatanan dunia pasca-Perang Dunia II, serta dimulainya era baru. Sebelum perang ini, gagasan tersebut tidak terpikirkan. Selat Hormuz secara historis dianggap sebagai jalur air internasional, di mana Konvensi PBB tentang Hukum Laut melarang pemberlakuan tol. Hak lintas damai bagi kapal dagang telah dijamin oleh hukum internasional dan dilindungi oleh Angkatan Laut AS sejak Perang Dunia II, termasuk di Selat Hormuz.
Namun, selama perang, Iran menutup selat tersebut dan kemudian menerapkan sistem tol improvisasi untuk kapal tanker minyak dan gas dari negara-negara tertentu, dengan biaya yang dibayar dalam *cryptocurrency* atau *yuan* Tiongkok. Menariknya, negara-negara seperti Tiongkok, Jepang, India, Pakistan, Yunani, Malaysia, dan Mesir mulai membayar tol tersebut, sementara militer AS tidak mampu menghentikannya. Sekarang, Iran menuntut agar kontrol kedaulatannya atas Selat Hormuz dan sistem tolnya diresmikan sebagai bagian dari kesepakatan damai. Iran mengusulkan tol sebesar $2 juta per kapal, atau sekitar $1 per barel minyak. Iran juga menyarankan kemitraan dengan Oman, yang menguasai sisi selatan selat, meskipun Oman telah menolak kerja sama tersebut. Iran merilis peta baru yang menunjukkan rute aman yang diklaim hanya melalui sisi Iran, mengisyaratkan bahwa mereka telah menambang sisi Oman untuk memaksa lalu lintas kapal melalui wilayahnya.
Jika Iran berhasil menguasai selat tersebut, ini akan menjadi masalah eksistensial bagi negara-negara Teluk Arab dan ekonomi global, karena Iran akan mengendalikan pasokan minyak mereka. Arab Saudi saat ini memegang sebagian besar kapasitas cadangan minyak global, memberikan pengaruh besar pada harga minyak dan inflasi global. Namun, jika Iran menguasai Selat Hormuz, Iran akan menjadi produsen minyak dominan yang dapat memengaruhi harga minyak global dengan menyesuaikan jumlah kapal tanker yang diizinkan melintas. Iran juga dapat memblokir kapal-kapal dari negara-negara yang tidak disukainya, memberikan tekanan ekonomi yang besar. Hal ini akan mengubah Iran menjadi hegemon regional di Teluk Persia dan menggeser posisi Arab Saudi sebagai produsen minyak paling penting di dunia.
Arab Saudi dan GCC menentang keras ide ini, tetapi Presiden Trump dan AS menunjukkan sikap yang tidak konsisten. Trump pernah menyatakan ketidakpedulian, menganggapnya sebagai masalah dunia, mengancam akan menyerang Iran, dan bahkan mengusulkan kolaborasi dengan Iran untuk mendapatkan keuntungan bersama dari sistem tol.
Meskipun pada awalnya dampak tol Iran terhadap ekonomi global mungkin minimal, konsekuensi jangka panjangnya bisa sangat besar. Sebuah analisis memperkirakan bahwa tol $1 per barel minyak hanya akan menaikkan harga minyak global sebesar 5 hingga 40 sen per barel. Eksportir Teluk Arab akan menanggung lebih dari 80% biaya tol, sekitar $6-14 miliar per tahun, yang sebelumnya tidak mereka bayar. Meskipun ini besar, angka tersebut masih lebih baik daripada kerugian $50 miliar akibat penutupan selat selama seperempat tahun.
Iran dapat memperoleh miliaran dolar per tahun dari tol ini, yang dapat digunakan untuk membangun kembali infrastruktur yang hancur atau, kemungkinan besar, untuk memperkuat militer dan program nuklirnya, serta mendukung pasukan proksi seperti Houthi dan Hizbullah. Sebagai perbandingan, Terusan Suez menghasilkan lebih dari $9 miliar per tahun bagi Mesir, sementara Terusan Panama menghasilkan lebih dari $5,7 miliar per tahun bagi Panama. Jika Iran berhasil menerapkan sistem tol yang diinginkannya, pendapatan tersebut dapat mendanai hingga sepertujuh dari anggaran operasional pemerintah Iran saat ini, yang sangat signifikan mengingat sanksi dan kerusakan infrastruktur akibat kampanye pengeboman AS dan Israel.
Namun, ada banyak tantangan. Pembayaran tol kepada Iran secara efektif akan menjadi pembayaran langsung kepada IRGC (Korps Garda Revolusi Islam), yang ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh AS dan UE. Perusahaan pelayaran yang membayar tol kemungkinan akan menghadapi sanksi dan masalah asuransi. AS dan UE mungkin akan mengabaikan komplikasi ini karena alternatif penutupan selat secara ekonomi jauh lebih buruk, menyebabkan kerugian puluhan miliar dolar per bulan dan kenaikan harga minyak global sebesar $40 per barel.
Penutupan selat juga menguntungkan Rusia, salah satu produsen minyak terbesar dunia. Kenaikan harga minyak akibat penutupan Hormuz dapat memberikan Rusia pendapatan tambahan $45-151 miliar, yang sebagian besar akan disalurkan untuk perang di Ukraina. Jika sistem tol Iran diberlakukan, kenaikan harga minyak global hanya sekitar 40 sen per barel, dan Rusia hanya akan mendapatkan kurang dari $1 miliar. Oleh karena itu, AS memiliki insentif untuk menerima sistem tol Hormuz guna mengurangi pendapatan Rusia dan menurunkan inflasi global.
Meskipun demikian, menerima sistem tol Iran memiliki konsekuensi besar yang mungkin baru terlihat setelah Trump tidak lagi menjabat. Hal ini akan melegitimasi penggunaan paksaan oleh Iran dan merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum maritim internasional yang telah berlaku selama puluhan tahun. Jalur air alami seperti Selat Hormuz secara hukum berbeda dari kanal buatan seperti Suez dan Panama, di mana negara penguasa dapat memungut tol.
Jika Iran diizinkan memberlakukan tol di Hormuz, hal ini dapat menciptakan preseden global. Denmark mungkin akan kembali memberlakukan "Sound Dues" di Selat Øresund, terutama untuk ekspor minyak Rusia dari Laut Baltik. Turki mungkin akan mencari cara untuk melepaskan diri dari Konvensi Montreux dan memungut tol yang lebih tinggi di Bosphorus dan Dardanelles. Negara-negara di sepanjang Bab al-Mandab, seperti Djibouti, Eritrea, dan Yaman (termasuk Houthi yang agresif), mungkin akan mendirikan sistem tol yang menguntungkan. Spanyol dan Maroko mungkin mempertimbangkan tol di Selat Gibraltar, atau tol di Selat Malaka dan selat-selat di Indonesia. Kanada mungkin akan memberlakukan rezim tol di Jalur Barat Laut, dan AS serta Rusia mungkin akan mendirikan tol di Selat Bering di masa depan.
Ini bisa menjadi awal dari kembalinya era merkantilisme, rute perdagangan yang dikenakan pajak, dan pembajakan yang mendefinisikan sejarah manusia selama berabad-abad. Hal ini akan merusak globalisasi, memperlambat perdagangan global, meningkatkan kemiskinan, menghambat akses terhadap sumber daya penting, dan mendorong negara-negara untuk berinvestasi kembali pada angkatan laut dan militer mereka untuk mengamankan jalur laut sendiri. Ini berpotensi menjadi akhir dari era Pax Americana yang telah kita kenal sejak Perang Dunia II. Meskipun hanya beberapa negara yang mengendalikan *chokepoint* akan diuntungkan dalam jangka pendek, dalam jangka panjang semua pihak akan merugi.